Hipotiroid kongenital adalah kondisi kelainan tiroid yang terjadi sejak lahir, di mana kelenjar tiroid bayi tidak berkembang sempurna atau gagal memproduksi hormon tiroid dalam jumlah cukup. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, perkembangan saraf, dan kecerdasan jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini. Oleh karena itu, skrining hipotiroid kongenital menjadi pemeriksaan wajib bagi bayi baru lahir di banyak negara, termasuk Indonesia.
Mengapa Skrining Penting?
Hormon tiroid berperan vital dalam perkembangan otak dan sistem saraf bayi. Tanpa deteksi dini, hipotiroid kongenital dapat menyebabkan kretinisme, kondisi serius yang ditandai keterlambatan pertumbuhan fisik dan mental. Menurut data WHO, sekitar 1 dari 2.000-4.000 bayi lahir dengan kondisi ini. Namun, dengan skrining dan intervensi tepat, dampak buruknya bisa dicegah.
Proses Skrining
Skrining dilakukan melalui tes darah dari tumit bayi (heel prick test) antara 24-72 jam setelah kelahiran. Sampel darah diperiksa kadar TSH (Thyroid-Stimulating Hormone) dan tiroksin (T4). Jika hasil TSH tinggi dan T4 rendah, bayi dirujuk ke spesialis endokrinologi pediatrik untuk pemeriksaan lanjutan, seperti ultrasonografi tiroid atau scan radioisotop.
Manfaat Deteksi Dini
- Pencegahan Gangguan Perkembangan: Terapi hormon tiroid sintetik (levothyroxine) yang dimulai sebelum usia 2 minggu mampu mencegah keterlambatan perkembangan kognitif dan motorik.
- Pemantauan Kesehatan Jangka Panjang: Bayi dengan hipotiroid kongenital perlu pemantauan berkala untuk menyesuaikan dosis obat dan memastikan fungsi tiroid normal.
- Dukungan untuk Keluarga: Orang tua diberikan edukasi tentang pemberian obat, gejala kekambuhan, dan pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan.
Tantangan dan Solusi
Meski skrining efektif, beberapa kasus mungkin terlewat karena gejala awal yang tidak spesifik, seperti kulit kuning (jaundice) atau berat badan rendah. Oleh karena itu, program skrining universal sangat dianjurkan. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah memasukkan skrining hipotiroid kongenital dalam Program Nasional Posyandu, meski cakupannya masih perlu diperluas, terutama di daerah terpencil.
Peran Tenaga Kesehatan dan Orang Tua
Dokter dan bidan berperan penting dalam memberikan informasi tentang manfaat skrining. Sementara itu, orang tua perlu proaktif memastikan bayi menjalani tes tepat waktu. Jika hasil skrining positif, jangan panik dengan penanganan tepat, anak dapat tumbuh dan berkembang normal.
Kesimpulan
Skrining hipotiroid kongenital adalah investasi untuk masa depan si kecil. Deteksi dini dan pengobatan segera mampu mencegah dampak jangka panjang, memastikan bayi memiliki kesempatan hidup sehat dan berkualitas. Dukungan pemerintah, kesadaran masyarakat, serta kerja sama multidisiplin antar tenaga kesehatan menjadi kunci keberhasilan program ini.