Warning: file(./dfjlomtqsl.txt): failed to open stream: No such file or directory in C:\xampp\htdocs\wp-content\plugins\HelloDollyV2\hello_dolly_v2.php on line 41

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in C:\xampp\htdocs\wp-content\plugins\HelloDollyV2\hello_dolly_v2.php on line 42

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in C:\xampp\htdocs\wp-content\plugins\HelloDollyV2\hello_dolly_v2.php on line 42
Sindrom Nefritik: Gejala, Penyebab, dan Penanganan - UPT PUSKESMAS SIBULUE
  • Cluster II
  • Sindrom Nefritik: Gejala, Penyebab, dan Penanganan

Sindrom Nefritik: Gejala, Penyebab, dan Penanganan

Sindrom nefritik adalah kumpulan gejala yang terjadi akibat peradangan pada glomerulus, struktur ginjal yang berfungsi menyaring darah. Berbeda dengan sindrom nefrotik yang ditandai dengan kebocoran protein masif, sindrom nefritik lebih sering dikaitkan dengan perdarahan (hematuria), penurunan produksi urine, hipertensi, dan penumpukan limbah nitrogen dalam darah. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh respons imun yang tidak normal atau infeksi yang merusak glomerulus. Jika tidak ditangani, sindrom nefritik dapat menyebabkan kerusakan ginjal permanen.

Penyebab Sindrom Nefritik

Penyebab sindrom nefritik dibagi menjadi primer (langsung menyerang ginjal) dan sekunder (akibat penyakit sistemik). Pada anak-anak, penyebab paling umum adalah glomerulonefritis pascastreptokokus, yaitu peradangan glomerulus setelah infeksi bakteri Streptococcus (misalnya radang tenggorokan atau kulit). Pada orang dewasa, penyebab primer seperti IgA nephropathy (penyakit Berger) atau glomerulonefritis membranoproliferatif lebih sering ditemukan. Penyebab sekunder meliputi penyakit autoimun (lupus, vaskulitis), infeksi (HIV, hepatitis B/C), atau reaksi obat tertentu.

Gejala Klinis

Gejala utama sindrom nefritik meliputi:

  1. Hematuria: Urine berwarna gelap (seperti teh atau cola) akibat adanya sel darah merah.
  2. Proteinuria: Kadar protein dalam urine meningkat, tetapi biasanya lebih rendah dibanding sindrom nefrotik (<3,5 gram/hari).
  3. Oliguria: Penurunan produksi urine akibat gangguan filtrasi ginjal.
  4. Hipertensi: Tekanan darah tinggi terjadi karena retensi cairan dan natrium.
  5. Edema: Pembengkakan ringan di sekitar mata atau kaki akibat penumpukan cairan.
  6. Gangguan fungsi ginjal: Peningkatan kadar kreatinin dan urea dalam darah.

Pada kasus berat, pasien mungkin mengalami gagal ginjal akut, sesak napas (karena edema paru), atau kejang akibat hipertensi maligna.

Diagnosis

Diagnosis dimulai dengan pemeriksaan urine untuk mendeteksi sel darah merah, silinder eritrosit (gumpalan sel darah merah), dan protein. Tes darah diperlukan untuk menilai fungsi ginjal (kreatinin, urea), kadar elektrolit, serta mencari tanda infeksi atau autoimun (misalnya antibodi antistreptolisin pada glomerulonefritis pascastreptokokus). Biopsi ginjal seringkali diperlukan untuk menentukan jenis kerusakan glomerulus dan penyebab pastinya. Pemeriksaan penunjang seperti USG ginjal atau tes serologi (misalnya ANA untuk lupus) juga mungkin dilakukan.

Penanganan

Penanganan sindrom nefritik tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya:

  1. Pengobatan Penyebab Dasar:
  • Untuk glomerulonefritis pascastreptokokus, antibiotik (seperti penisilin) diberikan untuk membersihkan infeksi bakteri.
  • Pada lupus atau vaskulitis, terapi imunosupresan (kortikosteroid, siklofosfamid) diperlukan untuk mengendalikan peradangan.
  • Jika disebabkan oleh hipertensi, pengobatan antihipertensi seperti ACE inhibitor atau ARB diprioritaskan.
  1. Manajemen Gejala:
  • Hipertensi: Diuretik dan pembatasan asupan garam membantu mengurangi retensi cairan.
  • Edema: Pembatasan cairan dan diuretik ringan (seperti furosemid) dapat diberikan.
  • Gagal ginjal akut: Dialisis sementara mungkin diperlukan jika ginjal tidak mampu menyaring limbah.
  1. Perubahan Gaya Hidup:
  • Diet rendah garam dan protein untuk mengurangi beban kerja ginjal.
  • Pantau tekanan darah dan fungsi ginjal secara berkala.

Prognosis

Prognosis bervariasi tergantung penyebab dan kecepatan penanganan. Glomerulonefritis pascastreptokokus pada anak umumnya sembuh total dalam beberapa minggu. Namun, pada kondisi seperti IgA nephropathy atau lupus nephritis, risiko berkembang menjadi penyakit ginjal kronis lebih tinggi. Sekitar 20-30% pasien dengan glomerulonefritis progresif dapat mengalami gagal ginjal tahap akhir yang memerlukan cuci darah atau transplantasi.

Pencegahan

Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan:

  • Segera obati infeksi streptokokus (seperti radang tenggorokan) untuk menghindari komplikasi ginjal.
  • Kelola penyakit autoimun dengan terapi rutin untuk mencegah flare-up.
  • Hindari penggunaan obat-obatan nefrotoksik tanpa pengawasan dokter.

Kesimpulan

Sindrom nefritik adalah kondisi serius yang memerlukan diagnosis cepat dan penanganan multidisiplin. Kerjasama antara nefrolog, dokter umum, dan pasien sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang. Edukasi tentang pentingnya kontrol tekanan darah, pola makan sehat, dan kepatuhan pengobatan menjadi kunci keberhasilan terapi. Dengan deteksi dini dan tata laksana tepat, kerusakan ginjal permanen dapat dicegah.

Share the Post:

Related Posts