Rabies adalah penyakit viral yang menyerang sistem saraf pusat, disebabkan oleh virus rabies dari genus Lyssavirus. Penyakit ini sangat berbahaya karena hampir selalu berakibat fatal jika gejala klinis sudah muncul. Rabies ditularkan melalui gigitan, cakaran, atau luka terbuka yang terkena air liur hewan terinfeksi, seperti anjing, kucing, kelelawar, atau musang.
Gejala awal rabies pada manusia sering kali tidak spesifik, meliputi demam, lemas, mual, atau sakit kepala. Dalam tahap lanjut, penderita dapat mengalami gejala neurologis seperti kejang, halusinasi, dan hidrofobia. Oleh karena itu, penting untuk melakukan tindakan cepat jika terjadi kontak dengan hewan yang dicurigai rabies.
Penanganan Awal
Penanganan awal yang tepat dapat mencegah infeksi rabies:
- Membersihkan Luka Segera
Cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 10-15 menit. Ini langkah krusial untuk mengurangi jumlah virus di area luka. Setelah itu, gunakan antiseptik seperti povidon iodin untuk membersihkan luka lebih lanjut. - Mencari Pertolongan Medis
Segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk evaluasi lebih lanjut. Tenaga medis akan menentukan apakah diperlukan vaksin rabies atau serum anti-rabies (SAR). - Pemberian Vaksin Rabies
Vaksin rabies diberikan melalui jadwal tertentu (0, 3, 7, 14, dan 28 hari setelah paparan). Jika luka berat atau gigitan dari hewan dengan risiko tinggi, SAR juga diberikan untuk memberikan perlindungan segera. - Observasi Hewan Penular
Jika memungkinkan, hewan yang menggigit diobservasi selama 10 hari. Hewan yang sehat dalam periode tersebut biasanya tidak menularkan rabies.
Rabies sepenuhnya dapat dicegah dengan vaksinasi hewan peliharaan, edukasi masyarakat, dan penanganan pasca-paparan yang tepat. Langkah cepat dan tepat dapat menyelamatkan nyawa dari ancaman rabies.