Sindrom nefrotik dan sindrom nefritik adalah dua kondisi ginjal yang memengaruhi glomerulus, struktur penyaring darah di ginjal. Meski keduanya berkaitan dengan kerusakan glomerulus, penyebab, gejala, dan penanganannya berbeda secara signifikan. Memahami perbedaan ini penting untuk diagnosis dan terapi yang tepat.
1. Perbedaan Patofisiologi
- Sindrom Nefrotik:
Terjadi akibat kerusakan pada dinding kapiler glomerulus, khususnya podosit (sel penyaring), yang menyebabkan kebocoran protein besar-besaran ke urine (proteinuria masif). Kerusakan ini umumnya tidak disertai peradangan aktif.
Contoh penyebab: Minimal change disease, membranous nephropathy, atau diabetes. - Sindrom Nefritik:
Disebabkan oleh peradangan glomerulus (glomerulonefritis) yang merusak struktur penyaring, sehingga sel darah merah dan protein bocor ke urine. Peradangan ini sering dipicu oleh respons imun abnormal atau infeksi.
Contoh penyebab: Glomerulonefritis pascastreptokokus, IgA nephropathy, atau lupus nephritis.
2. Perbedaan Gejala Klinis
ParameterSindrom NefrotikSindrom NefritikProteinuria ≥3,5 gram/hari (masif) <3,5 gram/hari (ringan-sedang) Hematuria Jarang, tidak dominan Dominan (urine seperti teh atau cola) Edema Parah (muka, kaki, perut) Ringan (sekitar mata atau kaki) Hipertensi Tidak selalu ada Sering ada (akibat retensi cairan) Fungsi Ginjal Biasanya normal di awal Cepat menurun (azotemia/oliguria) Gejala Tambahan Hiperlipidemia, risiko infeksi Sesak napas (edema paru), kejang
3. Perbedaan Diagnosis
- Urinalisis:
- Nefrotik: Proteinuria masif (+3/+4 pada dipstick), sedikit sel darah merah.
- Nefritik: Hematuria mikro/makroskopik, silinder eritrosit, proteinuria ringan (+1/+2).
- Tes Darah:
- Nefrotik: Hipoalbuminemia, hiperkolesterolemia.
- Nefritik: Peningkatan kreatinin dan urea (gangguan fungsi ginjal).
- Biopsi Ginjal:
- Nefrotik: Kerusakan podosit tanpa peradangan (misalnya penipisan membran basal).
- Nefritik: Peradangan glomerulus, proliferasi sel, atau deposisi kompleks imun.
4. Perbedaan Penanganan
- Sindrom Nefrotik:
- Fokus pada mengurangi proteinuria dengan kortikosteroid (misalnya prednison) atau imunosupresan.
- Terapi simtomatik: Diuretik untuk edema, diet rendah garam dan protein.
- Penghambat ACE/ARB untuk memperlambat kerusakan ginjal.
- Sindrom Nefritik:
- Fokus pada mengatasi peradangan dan penyebab dasar (misalnya antibiotik untuk infeksi streptokokus, imunosupresan untuk lupus).
- Kontrol hipertensi dengan ACE inhibitor atau diuretik.
- Pada kasus gagal ginjal akut, dialisis sementara mungkin diperlukan.
5. Prognosis
- Sindrom Nefrotik:
Prognosis bervariasi. Anak-anak dengan minimal change disease sering sembuh sempurna, sementara orang dewasa dengan FSGS berisiko gagal ginjal kronis. - Sindrom Nefritik:
Jika cepat ditangani (misalnya glomerulonefritis pascastreptokokus), bisa sembuh total. Namun, kondisi seperti IgA nephropathy atau lupus nephritis berisiko progresi ke penyakit ginjal kronis.
Kesimpulan
Perbedaan utama antara sindrom nefrotik dan nefritik terletak pada mekanisme kerusakan glomerulus, gejala dominan, dan pendekatan terapi. Sindrom nefrotik ditandai proteinuria masif dan edema, sementara sindrom nefritik lebih berhubungan dengan hematuria dan penurunan fungsi ginjal. Diagnosis akurat melalui urinalisis, tes darah, dan biopsi ginjal penting untuk menentukan terapi yang tepat. Kedua kondisi memerlukan pemantauan jangka panjang guna mencegah komplikasi seperti gagal ginjal kronis.