Warning: file(./dfjlomtqsl.txt): failed to open stream: No such file or directory in C:\xampp\htdocs\wp-content\plugins\HelloDollyV2\hello_dolly_v2.php on line 41

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in C:\xampp\htdocs\wp-content\plugins\HelloDollyV2\hello_dolly_v2.php on line 42

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in C:\xampp\htdocs\wp-content\plugins\HelloDollyV2\hello_dolly_v2.php on line 42
Pengaruh Gaya Hidup Sedentary terhadap Kesehatan Jangka Panjang - UPT PUSKESMAS SIBULUE
  • Cluster II
  • Pengaruh Gaya Hidup Sedentary terhadap Kesehatan Jangka Panjang

Pengaruh Gaya Hidup Sedentary terhadap Kesehatan Jangka Panjang

Gaya hidup sedentary, yang ditandai dengan aktivitas fisik minimal dan kebiasaan duduk atau berbaring berkepanjangan, semakin lazim di era modern. Perkembangan teknologi, pekerjaan berbasis kantor, serta kebiasaan menonton televisi atau menggunakan gawai telah memicu peningkatan populasi yang menghabiskan lebih dari 6 jam sehari dalam posisi duduk. Meski terlihat nyaman, pola hidup ini menyimpan risiko serius bagi kesehatan jangka panjang, baik secara fisik maupun mental.

Salah satu dampak paling nyata adalah peningkatan risiko penyakit kronis. Penelitian dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa gaya hidup sedentary menjadi faktor utama obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Saat tubuh jarang bergerak, metabolisme melambat, sehingga penumpukan lemak, terutama di sekitar perut, sulit dihindari. Kondisi ini memicu resistensi insulin, yang menjadi pintu masuk diabetes. Sementara itu, kurangnya aktivitas fisik juga melemahkan fungsi jantung, meningkatkan tekanan darah, dan kadar kolesterol jahat (LDL).

Selain itu, gaya hidup ini juga berpengaruh pada kesehatan mental. Studi dari Journal of Affective Disorders menyebutkan bahwa orang yang menghabiskan waktu lama dengan duduk cenderung mengalami gejala depresi dan kecemasan. Kurangnya gerak mengurangi produksi endorfin, hormon yang bertanggung jawab atas rasa bahagia. Selain itu, isolasi sosial akibat kecanduan gawai atau kebiasaan “mager” (malas gerak) memperparah stres dan kesepian.

Masalah muskuloskeletal juga kerap muncul. Duduk terlalu lama dengan postur tidak ergonomis menyebabkan nyeri punggung, leher kaku, dan sindrom terowongan karpal. Otot-otot tubuh bagian atas melemah, sementara sendi menjadi kaku akibat minimnya pergerakan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengarah pada degenerasi tulang belakang atau osteoporosis.

Tidak hanya itu, gaya hidup sedentary juga mempercepat proses penuaan. Penelitian dari University of California mengungkap bahwa orang yang jarang bergerak memiliki telomer (bagian kromosom yang melindungi DNA) lebih pendek. Telomer pendek dikaitkan dengan penuaan dini dan peningkatan risiko penyakit degeneratif.

Untuk mengurangi risiko, perubahan kecil dalam rutinitas bisa dilakukan. Contohnya, mengambil jeda setiap 30 menit untuk berdiri atau berjalan, menggunakan meja kerja berdiri, atau melakukan olahraga ringan seperti yoga. Aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu, seperti rekomendasi WHO, dapat meningkatkan stamina, memperbaiki mood, dan menjaga kesehatan organ vital.

Share the Post:

Related Posts