Cabut gigi adalah prosedur umum dalam dunia kedokteran gigi. Namun, tidak semua orang bisa menjalani tindakan ini dengan aman. Ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat cabut gigi berisiko menimbulkan komplikasi serius. Kondisi ini disebut kontraindikasi—situasi di mana suatu prosedur medis tidak disarankan karena potensi bahaya yang lebih besar ketimbang manfaatnya.
1. Diabetes yang Tidak Terkontrol
Diabetes mengganggu kemampuan tubuh untuk menyembuhkan luka. Jika kadar gula darah tidak stabil, proses pemulihan pasca pencabutan bisa terhambat, meningkatkan risiko infeksi. Dokter biasanya akan menyarankan pengaturan gula darah terlebih dahulu sebelum melakukan ekstraksi.
2. Penyakit Jantung Serius
Pasien dengan riwayat penyakit jantung, seperti gangguan katup atau endokarditis bakteri, perlu berhati-hati. Prosedur invasif seperti cabut gigi dapat memicu bakteremia (masuknya bakteri ke aliran darah), yang berpotensi menyebabkan infeksi di jantung. Konsultasi dengan dokter spesialis jantung sering kali diperlukan.
3. Gangguan Pembekuan Darah
Kondisi seperti hemofilia atau penggunaan obat pengencer darah (misalnya warfarin) dapat menyebabkan perdarahan hebat selama atau setelah pencabutan. Dalam kasus ini, dokter mungkin memodifikasi dosis obat atau merekomendasikan transfusi sebelum tindakan.
4. Kehamilan Trimester Pertama dan Ketiga
Meski cabut gigi mungkin aman di trimester kedua, prosedur ini umumnya dihindari pada trimester pertama (risiko gangguan perkembangan janin) dan ketiga (risiko persalinan prematur). Jika mendesak, dokter akan memastikan tindakan dilakukan dengan pemantauan ketat.
5. Infeksi Aktif di Sekitar Gigi
Jika area sekitar gigi mengalami infeksi berat (abses atau selulitis), dokter gigi mungkin menunda pencabutan hingga infeksi terkontrol. Mengeluarkan gigi dalam kondisi ini bisa menyebarkan bakteri ke bagian tubuh lain.
6. Sistem Imun yang Lemah
Pasien dengan HIV/AIDS, sedang menjalani kemoterapi, atau penggunaan steroid jangka panjang memiliki daya tahan tubuh rendah. Hal ini meningkatkan risiko infeksi pascaoperasi yang sulit diatasi.
7. Osteoporosis Parah atau Penggunaan Bisfosfonat
Obat osteoporosis seperti bisfosfonat dapat menyebabkan osteonekrosis (kematian tulang) di rahang jika pasien menjalani pencabutan. Kondisi ini jarang tapi serius, sehingga perlu evaluasi menyeluruh sebelum tindakan.
8. Gangguan Mental atau Kecemasan Berat
Pasien dengan demensia, autisme, atau fobia berat mungkin tidak mampu kooperatif selama prosedur. Dalam kasus ini, anestesi umum atau pendekatan multidisiplin mungkin diperlukan.
9. Riwayat Stroke atau Serangan Jantung Baru
Pasien yang baru mengalami stroke atau serangan jantung dalam 6 bulan terakhir berisiko tinggi mengalami komplikasi kardiovaskular selama pencabutan. Prosedur biasanya ditunda hingga kondisi stabil.
10. Radiasi Kepala atau Leher
Terapi radiasi di area rahang dapat merusak jaringan dan tulang, membuat proses penyembuhan lebih lambat. Dokter gigi perlu bekerja sama dengan ahli onkologi untuk meminimalkan risiko.
Kesimpulan
Kontraindikasi cabut gigi tidak selalu berarti prosedur ini sama sekali tidak bisa dilakukan. Dalam banyak kasus, tindakan dapat dilaksanakan setelah kondisi medis pasien dioptimalkan atau dengan penanganan khusus. Kunci utamanya adalah komunikasi terbuka antara pasien, dokter gigi, dan dokter spesialis lainnya. Jika Anda memiliki riwayat kesehatan yang kompleks, jangan ragu untuk bertanya: “Apakah cabut gigi aman untuk saya?”