Infeksi Menular Seksual (IMS) di kalangan remaja menjadi isu kesehatan global yang kian mengkhawatirkan. Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa 1 dari 4 remaja aktif secara seksual pernah mengalami IMS, dengan peningkatan signifikan dalam dekade terakhir. Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan mencatat kenaikan kasus klamidia, gonore, dan sifilis di kelompok usia 15-24 tahun sebesar 30% dalam lima tahun terakhir. Fenomena ini tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga berdampak psikologis dan sosial yang kompleks.
Apa Penyebabnya?
Pertama, perubahan perilaku seksual remaja di era digital tidak bisa diabaikan. Akses mudah ke konten seksual melalui media sosial dan platform streaming memicu rasa penasaran yang berujung pada eksperimen seksual tanpa persiapan memadai. Survei dari Youth Health Forum (2023) menemukan bahwa 60% remaja mengaku tidak menggunakan proteksi saat berhubungan seksual pertama kali, dengan alasan “tidak siap” atau “tidak nyaman”.
Kedua, minimnya edukasi seksual komprehensif di sekolah dan keluarga. Banyak remaja hanya mendapatkan informasi parsial tentang IMS, seperti bahaya HIV/AIDS, tetapi tidak memahami gejala atau cara penularan IMS lainnya. Akibatnya, mereka tidak menyadari risiko hubungan seksual tanpa proteksi atau berganti pasangan.
Ketiga, stigma sosial yang kuat terhadap IMS membuat remaja enggan memeriksakan diri. Takut dihakimi atau dianggap “nakal” sering kali menghalangi mereka untuk mencari bantuan medis. Padahal, IMS seperti klamidia bisa disembuhkan jika ditangani sejak dini, sementara penundaan pengobatan berisiko menyebabkan komplikasi seperti kemandulan atau kerusakan organ reproduksi.
Tantangan dalam Penanganan
Salah satu hambatan terbesar adalah kurangnya keterbukaan komunikasi antara orang tua dan remaja. Banyak orang tua masih menganggap pembahasan seksual sebagai tabu, sehingga remaja mencari informasi dari sumber yang tidak terpercaya. Di sisi lain, layanan kesehatan reproduksi untuk remaja sering kali tidak ramah atau tidak menjamin kerahasiaan, membuat mereka enggan berkonsultasi.
Selain itu, maraknya aplikasi kencan dan platform sosial mempermudah terjadinya hubungan seksual tanpa komitmen jangka panjang. Studi dari Journal of Adolescent Health (2022) menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan aplikasi kencan memiliki risiko 2 kali lebih tinggi tertular IMS dibandingkan yang tidak.
Solusi yang Perlu Diperjuangkan
Pendidikan seksual berbasis sains dan inklusif harus menjadi prioritas. Kurikulum sekolah perlu menyertakan materi tentang IMS, cara pencegahan, serta pentingnya pemeriksaan rutin. Edukasi ini harus disampaikan tanpa menghakimi, agar remaja merasa nyaman bertanya dan mencari bantuan.
Selain itu, pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat perlu memperluas akses layanan kesehatan reproduksi yang ramah remaja. Klinik kesehatan bisa menyediakan layanan konseling online atau hotline untuk menjaga privasi. Kampanye kesadaran melalui media sosial juga efektif untuk menjangkau remaja dengan bahasa yang relevan, seperti melalui konten video pendek atau infografis interaktif.
Kesadaran Diri sebagai Kunci
Remaja perlu didorong untuk lebih proaktif memahami risiko IMS. Membangun kebiasaan rutin memeriksakan diri ke layanan kesehatan, terutama jika aktif secara seksual, bisa menjadi langkah preventif. Diskusi terbuka dengan pasangan tentang riwayat kesehatan seksual juga penting untuk mengurangi risiko penularan.
Pada akhirnya, penanganan IMS di kalangan remaja bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi seluruh komponen masyarakat. Dengan pendekatan yang holistik—gabungan edukasi, akses layanan kesehatan, dan dukungan sosial—diyakini angka IMS bisa ditekan. Remaja adalah generasi penerus yang berhak mendapatkan kehidupan sehat, dan mencegah IMS adalah langkah krusial untuk mewujudkannya.