Warning: file(./dfjlomtqsl.txt): failed to open stream: No such file or directory in C:\xampp\htdocs\wp-content\plugins\HelloDollyV2\hello_dolly_v2.php on line 41

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in C:\xampp\htdocs\wp-content\plugins\HelloDollyV2\hello_dolly_v2.php on line 42

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in C:\xampp\htdocs\wp-content\plugins\HelloDollyV2\hello_dolly_v2.php on line 42
Jenis-Jenis Komplikasi Pasca Melahirkan yang Perlu Diwaspadai - UPT PUSKESMAS SIBULUE
  • Cluster II
  • Jenis-Jenis Komplikasi Pasca Melahirkan yang Perlu Diwaspadai

Jenis-Jenis Komplikasi Pasca Melahirkan yang Perlu Diwaspadai

Melahirkan adalah proses alami, tetapi tak jarang menyisakan risiko komplikasi yang perlu diwaspadai. Meski sebagian besar ibu pulih dengan baik, beberapa kondisi pasca persalinan bisa mengancam kesehatan jika tidak ditangani segera. Berikut 10 komplikasi umum beserta gejala dan langkah antisipasinya.

1. Perdarahan Pasca Melahirkan

Perdarahan berat setelah persalinan (postpartum hemorrhage) terjadi ketika rahim gagal berkontraksi untuk menutup pembuluh darah. Kondisi ini bisa dipicu oleh sisa plasenta atau robekan jalan lahir. Gejala meliputi keluar darah sangat banyak, pusing, atau pingsan. Segera ke rumah sakit jika darah terus mengalir lebih dari satu jam.

2. Infeksi

Infeksi bisa menyerang luka jahitan, rahim, atau saluran kemih. Tanda-tandanya meliputi demam, nyeri perut, keluar cairan berbau dari vagina, atau kemerahan di area jahitan. Kebersihan diri dan kontrol medis rutin membantu mencegah risiko ini.

3. Preeklampsia Pasca Melahirkan

Tekanan darah tinggi yang muncul setelah persalinan (postpartum preeclampsia) bisa terjadi hingga enam minggu pasca melahirkan. Gejala seperti sakit kepala hebat, penglihatan kabur, atau mual harus diwaspadai. Kondisi ini memerlukan penanganan segera untuk mencegah kejang atau kerusakan organ.

4. Bekuan Darah

Risiko trombosis (bekuan darah) meningkat selama masa nifas karena perubahan hormonal dan kurang gerak. Gejala seperti nyeri dada, sesak napas, atau pembengkakan kaki bisa mengindikasikan emboli paru atau deep vein thrombosis (DVT).

5. Robekan Perineum

Robekan di area perineum (antara vagina dan anus) sering terjadi saat persalinan normal. Jika tidak dijahit dengan benar, luka bisa terinfeksi atau menyebabkan nyeri kronis. Perawatan luka dan istirahat cukup penting untuk pemulihan.

6. Mastitis

Radang payudara (mastitis) umum terjadi saat menyusui akibat sumbatan ASI atau infeksi bakteri. Gejala meliputi payudara bengkak, kemerahan, dan demam. Kompres hangat dan pengeluaran ASI rutin dapat mencegah kondisi ini.

7. Depresi Pasca Melahirkan

Perubahan hormonal dan stres bisa memicu depresi atau kecemasan berlebihan. Gejala seperti insomnia, kehilangan nafsu makan, atau perasaan tidak berdaya harus ditangani dengan konseling atau terapi medis.

8. Inkontinensia Urin

Kerusakan otot panggul selama persalinan menyebabkan kebocoran urine saat batuk atau tertawa. Latihan Kegel dan fisioterapi dapat membantu memperkuat otot sekitar kandung kemih.

9. Prolaps Uterus

Rahim yang “turun” dari posisi normal (prolaps) terjadi akibat melemahnya ligamen penyangga. Kondisi ini menyebabkan rasa berat di perut atau keluar benjolan dari vagina. Penanganan meliputi terapi fisik atau operasi.

10. Plasenta Tertinggal

Sisa jaringan plasenta di rahim pasca persalinan bisa memicu perdarahan atau infeksi. Gejala meliputi demam dan keluar gumpalan darah. Prosedur kuretase biasanya diperlukan untuk membersihkan rahim.

Pentingnya Kewaspadaan dan Tindakan Cepat
Komplikasi pasca melahirkan bisa terjadi pada siapa saja, terlepas dari riwayat kehamilan sehat. Kenali gejala abnormal dan jangan ragu berkonsultasi ke tenaga medis. Pemeriksaan rutin 6 minggu pasca melahirkan (postpartum check-up) juga krusial untuk mendeteksi masalah sejak dini. Dengan penanganan tepat, sebagian besar komplikasi dapat diatasi tanpa meninggalkan efek jangka panjang.

Share the Post:

Related Posts