Di era media sosial yang serba visual, tren diet ekstrem semakin marak di kalangan remaja. Mulai dari diet keto, puasa intermiten, hingga konsumsi obat pelangsing, banyak remaja rela mencoba berbagai cara untuk mendapatkan tubuh “ideal” yang seringkali tidak realistis. Meski tujuannya mungkin untuk meningkatkan kepercayaan diri, tren ini justru menimbulkan dampak negatif yang serius, baik secara sosial maupun kesehatan.
Dampak Sosial
- Isolasi dan Gangguan Hubungan Sosial
Remaja yang menjalani diet ekstrem seringkali menghindari acara makan bersama teman atau keluarga karena takut melanggar aturan diet. Hal ini memicu rasa kesepian dan mengurangi interaksi sosial yang penting untuk perkembangan emosional mereka. - Body Shaming dan Tekanan Teman Sebaya
Tren diet ekstrem kerap dipicu oleh standar kecantikan yang tidak realistis di media sosial. Remaja yang tidak memenuhi standar tersebut rentan menjadi korban body shaming, baik dari teman sebaya maupun komentar di dunia maya. Sebaliknya, mereka yang berhasil menurunkan berat badan secara ekstrem justru mungkin mendapat pujian, sehingga mendorong perilaku tidak sehat. - Gangguan Citra Tubuh (Body Dysmorphia)
Obsesi terhadap bentuk tubuh dapat menyebabkan gangguan citra tubuh, di mana remaja terus merasa tidak puas dengan penampilan fisiknya, meski sudah mencapai berat badan tertentu. Kondisi ini seringkali menjadi pintu masuk ke gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia.
Dampak Kesehatan
- Defisiensi Nutrisi
Diet ekstrem yang menghilangkan kelompok makanan tertentu (seperti karbohidrat atau lemak) dapat menyebabkan kekurangan nutrisi penting seperti zat besi, kalsium, atau vitamin D. Kondisi ini berisiko menimbulkan anemia, osteoporosis, atau gangguan sistem imun. - Gangguan Metabolisme dan Hormonal
Pembatasan kalori ekstrem dapat mengganggu fungsi tiroid dan hormon seperti leptin (pengatur rasa kenyang) serta ghrelin (pengatur rasa lapar). Pada remaja perempuan, hal ini bisa menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur atau amenore. - Penurunan Kognitif dan Energi
Asupan nutrisi yang tidak seimbang mengurangi kemampuan konsentrasi dan daya ingat. Remaja mungkin merasa lemas, pusing, atau mudah lelah, yang berdampak pada prestasi akademik dan aktivitas sehari-hari. - Risiko Gangguan Makan Jangka Panjang
Kebiasaan diet ekstrem dapat berkembang menjadi gangguan makan kronis, seperti anoreksia nervosa atau bulimia. Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa 1 dari 5 remaja di Indonesia memiliki kecenderungan gangguan makan, sebagian besar dipicu oleh pola diet tidak sehat.
Solusi dan Pencegahan
Pendidikan mengenai nutrisi seimbang dan body positivity perlu diperkuat, baik di sekolah maupun keluarga. Orang tua dan guru harus menjadi role model dengan tidak mengomentari bentuk tubuh seseorang. Selain itu, regulasi konten media sosial yang mempromosikan diet ekstrem perlu ditingkatkan untuk melindungi remaja dari informasi menyesatkan.
Dengan pendekatan holistik yang melibatkan individu, keluarga, dan masyarakat, diharapkan remaja dapat lebih bijak dalam memilih pola hidup sehat tanpa harus mengorbankan kesejahteraan fisik dan mental mereka.