Bulimia nervosa, atau yang sering disebut bulimia, merupakan gangguan makan yang ditandai dengan pola makan berlebihan (binge eating) diikuti upaya untuk mengeluarkan kembali makanan tersebut melalui muntah, puasa ekstrem, atau penyalahgunaan obat pencahar. Gangguan ini umumnya muncul pada masa remaja, terutama di usia 15–19 tahun, dan lebih banyak dialami oleh perempuan. Di era modern seperti sekarang, kasus bulimia pada remaja semakin meningkat, dipengaruhi oleh tekanan sosial, standar kecantikan yang tidak realistis, serta kompleksitas emosional masa pubertas.
Penyebab Bulimia pada Remaja
Bulimia tidak hanya terkait dengan kebiasaan makan, tetapi juga dipicu oleh faktor psikologis, sosial, dan lingkungan. Beberapa penyebab utamanya meliputi:
- Tekanan Citra Tubuh: Media sosial dan iklan yang menampilkan tubuh ideal membuat remaja rentan merasa tidak percaya diri. Mereka berupaya menurunkan berat badan dengan cara tidak sehat.
- Masalah Psikologis: Kecemasan, depresi, atau trauma emosional sering kali menjadi pemicu. Binge eating menjadi pelarian untuk mengatasi stres.
- Pengaruh Lingkungan: Keluarga yang overprotektif atau justru kurang perhatian dapat memicu gangguan pola makan. Selain itu, tekanan teman sebaya untuk memiliki tubuh “sempurna” juga berkontribusi.
- Genetik: Riwayat keluarga dengan gangguan makan meningkatkan risiko seseorang mengalami bulimia.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala bulimia terbagi menjadi dua kategori: fisik dan emosional. Secara fisik, penderita sering mengalami:
- Sering muntah atau menggunakan obat pencahar.
- Perubahan berat badan drastis.
- Gusi berdarah atau gigi rusak akibat paparan asam lambung saat muntah.
- Dehidrasi dan kelelahan kronis.
Secara emosional, remaja dengan bulimia cenderung:
- Menyembunyikan kebiasaan makannya.
- Merasa bersalah atau malu setelah makan berlebihan.
- Menghindari acara sosial yang melibatkan makan.
- Terobsesi dengan diet ketat atau olahraga berlebihan.
Dampak Jangka Panjang
Bulimia tidak hanya mengganggu kesehatan fisik, tetapi juga berisiko menimbulkan komplikasi serius:
- Gangguan Elektrolit: Sering muntah dapat mengacaukan keseimbangan elektrolit dalam tubuh, berpotensi menyebabkan gagal jantung.
- Kerusakan Gigi: Paparan asam lambung merusak enamel gigi, menyebabkan gigi sensitif atau berlubang.
- Gangguan Mental: Risiko depresi, kecemasan, atau gangguan kepribadian meningkat seiring dengan perasaan malu yang terus-menerus.
- Kemandulan: Perubahan hormonal akibat pola makan tidak teratur dapat mengganggu kesuburan.
Pencegahan dan Penanganan
Upaya pencegahan bulimia harus dimulai dari kesadaran diri dan lingkungan:
- Pendidikan Kesehatan Mental: Sekolah dan orang tua perlu membuka dialog tentang body positivity dan bahaya gangguan makan.
- Dukungan Keluarga: Ciptakan lingkungan yang bebas tekanan terkait bentuk tubuh. Ajak remaja berbicara tanpa menghakimi jika mereka menunjukkan gejala.
- Konseling Profesional: Terapi kognitif-perilaku (CBT) efektif untuk mengubah pola pikir negatif tentang tubuh dan makanan.
- Pola Hidup Seimbang: Perkenalkan kebiasaan makan bergizi dan olahraga yang wajar tanpa obsesi.
Kesimpulan
Bulimia pada remaja adalah isu kompleks yang memerlukan perhatian serius. Dengan meningkatkan kesadaran tentang bahaya gangguan makan dan membangun sistem dukungan yang kuat, kita bisa membantu generasi muda tumbuh dengan pola pikir sehat. Jika gejala bulimia mulai terlihat, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Kesehatan fisik dan mental remaja adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.