Warning: file(./dfjlomtqsl.txt): failed to open stream: No such file or directory in C:\xampp\htdocs\wp-content\plugins\HelloDollyV2\hello_dolly_v2.php on line 41

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in C:\xampp\htdocs\wp-content\plugins\HelloDollyV2\hello_dolly_v2.php on line 42

Notice: Trying to access array offset on value of type bool in C:\xampp\htdocs\wp-content\plugins\HelloDollyV2\hello_dolly_v2.php on line 42
Anoreksia: Memahami Bahaya Gangguan Makan yang Mengancam Kesehatan Mental - UPT PUSKESMAS SIBULUE
  • Cluster II
  • Anoreksia: Memahami Bahaya Gangguan Makan yang Mengancam Kesehatan Mental

Anoreksia: Memahami Bahaya Gangguan Makan yang Mengancam Kesehatan Mental

Anoreksia nervosa, atau yang sering disebut anoreksia, adalah gangguan makan serius yang ditandai dengan keinginan berlebihan untuk menurunkan berat badan dan ketakutan intens terhadap kenaikan berat badan. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan mental penderitanya. Meski lebih sering dialami oleh remaja dan dewasa muda, anoreksia bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia atau gender.

Penyebab Anoreksia
Anoreksia merupakan hasil dari kombinasi faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Secara psikologis, penderitanya cenderung memiliki kecenderungan perfeksionis, rendah diri, atau kecemasan berlebihan terhadap penampilan fisik. Faktor lingkungan seperti tekanan sosial untuk memiliki tubuh ideal, bullying, atau riwayat trauma juga bisa menjadi pemicu. Di sisi lain, ketidakseimbangan hormon atau riwayat keluarga dengan gangguan makan dapat meningkatkan risiko terjadinya anoreksia.

Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala anoreksia terbagi menjadi dua kategori: fisik dan perilaku. Secara fisik, penderita mengalami penurunan berat badan drastis, kulit kering, rambut rontok, menstruasi tidak teratur, hingga gangguan jantung. Sementara secara perilaku, mereka sering menolak makan, menghitung kalori secara obsesif, berolahraga berlebihan, atau mengonsumsi obat pencahar tanpa kebutuhan medis. Perubahan emosional seperti isolasi sosial, mudah marah, atau depresi juga kerap menyertainya.

Dampak Buruk bagi Kesehatan
Anoreksia tidak hanya merusak tubuh, tetapi juga mengancam jiwa. Kekurangan nutrisi jangka panjang dapat menyebabkan osteoporosis, gagal jantung, gangguan elektrolit, hingga kematian. Secara mental, penderitanya rentan mengalami depresi, kecemasan kronis, atau bahkan keinginan bunuh diri. Sayangnya, stigma sosial sering kali membuat penderita enggan mencari bantuan, sehingga memperparah kondisi.

Pendekatan Pengobatan
Penanganan anoreksia memerlukan pendekatan multidisiplin. Pertama, pemulihan nutrisi melalui program makan seimbang di bawah pengawasan ahli gizi. Kedua, terapi psikologis seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk mengubah pola pikir negatif terkait tubuh dan makanan. Dalam kasus berat, rawat inap diperlukan untuk memantau kondisi fisik. Dukungan keluarga dan lingkungan juga krusial untuk membangun kepercayaan diri penderita.

Mencegah dan Meningkatkan Kesadaran
Edukasi tentang bahaya anoreksia harus dimulai sejak dini. Orang tua dan pendidik perlu membuka dialog terbuka tentang body positivity dan menghindari komentar yang mengaitkan nilai diri dengan bentuk tubuh. Media sosial juga bertanggung jawab untuk mengurangi konten toxic yang mempromosikan tubuh ekstrem. Jika Anda atau orang terdekat menunjukkan gejala anoreksia, segera konsultasi ke profesional kesehatan mental atau dokter.

Anoreksia bukan sekadar masalah diet, melainkan gangguan kompleks yang membutuhkan kesabaran dan dukungan berkelanjutan. Dengan penanganan tepat, pemulihan mungkin tercapai. Mari bersama membangun lingkungan yang peduli pada kesehatan fisik dan mental.

Share the Post:

Related Posts